Paketkan Buah dan Minyak Goreng, Perindagkop-UKM Kendari: Tidak Ada Aturannya

Syarat pembelian buah tersebut digunakan agar penjualan minyak goreng bisa merata.

SultraLight.Net – Sebuah toko ritel di Jalan Pembangunan Sanua, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, diprotes warga lantaran mempaketkan buah dengan minyak goreng.

Warga yang ingin membeli 2 liter minyak goreng diwajibkan membeli 1 kilogram buah dengan harga Rp 33 ribu terlebih dahulu. Sedangkan 2 liter minyak goreng seharga Rp. 28 ribu.

Anggota DPRD Kota Kendari Komisi II, Muh. Syaifullah Usman ini juga menyoalkan dus minyak goreng yang diganti dengan dus buah. Ia menuding karyawan ingin mengelabui penjualan minyak goreng.

“Dia ganti dengan dus buah, ini ada apa. Itu dus buah, Saya suruh buka dia tidak mau,” tuturnya.

BACA JUGA :  Mobil di Konawe Pemuat BBM Ludes Terbakar, Sopir Alami Luka Bakar
Ketgam: Warga yang ingin membeli 2 liter minyak goreng diwajibkan membeli 1 kilogram buah dengan harga Rp 33 ribu terlebih dahulu.

Ditempat yang sama, penanggung jawab toko ritel, Rusli mengatakan syarat tersebut digunakan agar penjualan minyak goreng bisa merata.

Sebab, sebelum aturan tersebut ada, warga membeli minyak goreng di tokonya dan tidak beraturan.

“Kita beri syarat buat itu murni agar masyarakat tidak asal beli minyak goreng di sini,” katanya.

Terkait menyimpan minyak goreng di kardus buah, Rusli beralasan agar masyarakat tidak berebutan ketika minyak goreng yang dikeluarkan dari gudang.

“Agar orang tidak tandai, Ada toko lainnya, minyak goreng di pajang, karyawannya luka-luka karena saling dorong minyaknya rusak, siapa yang mau tanggungjawab,” paparnya.

BACA JUGA :  Jadi Korban Dugaan Penggelapan Mobil, Wanita di Konawe Hampir Bunuh Diri

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Perindagkop-UKM) Kota Kendari, Ambo Aco mengaku tidak ada aturan resmi terkait persyaratan itu.

“Tidak ada aturannya. Itu hanya metode manajemen dari suatu penjualan,” jelasnya melalui pesan whatsapp, Senin, 14 Maret 2022.

Ambo Aco mengaku aturan tersebut murni diterapkan sendiri oleh pemilik toko yang menjual minyak goreng, agar bisa menata dengan baik warga yang ingin membeli.

“Karena kalau tidak begitu, pasti antrian orang datang membeli minyak goreng,” pungkasnya. (Ad)

Print Friendly, PDF & Email