Skripsi Dianggap Menyinggung Suku Tolaki, Begini Klarifikasi Kaprodi Pendidikan Sosiologi Unismuh Makassar

Ketgam: Ketua Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Jamaluddin Arifin (kiri) dan skripsi yang dibuat oleh Jumardin pada tahun 2016 (kanan).

SultraLight.Net – Ketua Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Jamaluddin Arifin akhirnya memberikan klarifikasi atas keberatan Suku Tolaki terhadap skripsi berjudul ‘Asumsi Masyarakat Bugis Terhadap Ideologi Suku Tolaki di Kolaka Utara’.

Dikutip melalui halaman website Unismuh Makassar, Jamaluddin mengucapkan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan skripsi yang dibuat oleh Jumardin pada tahun 2016 itu.

“Sebelumnya, kami memohon maaf jika skripsi tersebut menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan provokasi terhadap suku Tolaki,” ucapnya, Selasa, 11 April 2023.

Lebih lanjut, bahwa skripsi tersebut tujuannya untuk meneliti asumsi masyarakat Bugis terhadap ideologi suku Tolaki di Kolaka Utara. Penelitian dilakukan dengan metode ilmiah melalui pendekatan kualitatif.

Terlebih lagi, proses pengujian begitu ketat oleh dosen pembimbing dan tim penguji. Skripsi tersebut juga telah disetujui dan dinyatakan lulus ujian.

“Kami sebagai institusi pendidikan menghargai setiap suku dan agama yang ada di Indonesia dan tidak pernah mendukung atau memprovokasi pertentangan SARA. Sebagai pihak kampus, kami berkomitmen untuk menjaga keamanan dan kedamaian serta mencegah terjadinya konflik antarsuku atau agama,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa sebagai lembaga pendidikan tinggi akan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman, toleransi, dan saling menghormati antar suku serta agama.

BACA JUGA :  Soal Skripsi Penghinaan Suku, KSK Minta Masyarakat Tolaki Tahan Diri

“Kami mengutuk segala bentuk diskriminasi dan intoleransi, dan kami berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang inklusif dan berpihak pada keadilan,” jelas Jamal yang juga merupakan Alumni program S3 Sosiologi UNM.

Namun, Jamal juga mengatakan bahwa perlu menghargai hak mahasiswa untuk mengeksplorasi topik-topik yang relevan dengan bidang studi dan menjalankan penelitian secara ilmiah.

Bahkan jika ditelisik lebih dalam, skripsi itu justru memberi rekomendasi yang mendorong integrasi sosial. Jamaluddin, mengutip secara utuh rekomendasi dalam skripsi tersebut sebagai berikut.

Pertama, untuk menjaga dan mempererat hubungan sosial dalam suatu masyarakat hendaknya kita harus saling menghargai antara satu suku dengan suku yang lain, menerima budaya, dan ideologi suatu suku

Kedua, sebagai manusia yang mempunya akal dan pikiran tentunya kita harus menggunakan akal dan pikiran kita secara serta pola pikir yang lebih dewasa dalam memeknai perbedaan setiap budaya yang ada dalam kehidupan bermasyarakat dan menghindari asumsi-asumsi negatif terhadap ideologi suku atau budaya lain.

Ketiga, perbedaan suku atau ras bukan suatu hambatan untuk mejalankan suatu ikatan pernikahan tetapi yang terpenting adalah seagama dan seiman, menikah dengan suku manapun tidak akan memperburuk rejeki ataupun nasib seseorang dan baik buruknya rejeki ataupun nasib seseorang yaitu tergantung dari usaha dan doanya masing-masing.

BACA JUGA :  Andi Ady Aksar Apresiasi Kantor Baru DPC Konawe, Ini Bukti Keseriusan Bergerindra

Keempat, untuk meningkatkan solidaritas dalam suatu masyarakat harusnya kita menghindari asumsi-asumsi negatif terhadap orang lain dan berusaha untuk selalu positif terhadap ideologi suku yang lain kareana setiap individu ataupun masyarakat akan terus mengalami peningkat ideologi ataupun pola pikir sehingga asumsi-asumsi dimasa lalu bukanlah patokan untuk mencap sesorang atau suatu suku dengan cap yang negatif.

“Adapun beberapa stereotip negatif dalam skripsi tersebut, bukan pendapat pribadi peneliti, melainkan pendapat informan. Peneliti berupaya mengungkap bahwa stereotip tersebut masih ada di kalangan masyarakat, sehingga masih diperlukan edukasi lebih lanjut untuk menghilangkannya,” urai Jamaluddin.

Oleh karena itu, sekali lagi ia memohon maaf dan berharap pengertian serta dukungan dari seluruh masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman yang lebih lanjut.

“Demikianlah klarifikasi ini kami sampaikan, semoga dapat memberikan penjelasan yang memadai dan menghilangkan ketidaknyamanan yang mungkin timbul. Terima kasih atas perhatiannya,” tutupnya.

Print Friendly, PDF & Email