Dibalik Keindahan Air Terjun Tumburano Wawonii, Ada Kisah Asmara yang Berakhir Tragis

Ketgam : Air Terjun Tumburano yang terletak di Desa Tumburano, Kecamatan Wawonii Utara, Kabupaten Konawe Kepulauan.

SultaLight.Net– Sulawesi Tenggara merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian tenggara Pulau Sulawesi dengan ibu kota Kendari.

Di daerah ini memang memiliki keindahan alam yang ciamik mulai dari pegunungan yang hijau, sungai dan air terjun yang tersebar di beberapa daerah, hingga jernihnya lautan.

Namun dibalik keindahan alamnya itu semua tidak terlepas dari kisah mistis yang tersembunyi.

Air Terjun Tumburano misal, Air Terjun Tumburano adalah sebuah air terjun di pedalaman Pulau Wowoni, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kata Tumburano berarti temat air jatuh atau air yang jatuh. Air terjun ini adalah air terjun tertinggi dan terbesar yang ada di Kabupaten Konawe Kepulauan.

Belum diketahui pasti ketinggian total air terjun ini namun diperkirakan memiliki ketinggian sekira 80 meter dengan tiga undakan air terjun besar dan beberapa undakan kecil.

Debit airnya sangat deras jika sedang di musim penghujan dan akan menyusut di musim kemarau, tetapi airnya akan sangat lebih jernih.

Air Terjun Tumburano sangat unik karena air akan merayapi dinding batuan sedimen raksasa kecoklatan yang terbentuknya seperti sebuah atap rumah adat.

BACA JUGA :  Sambut HUT RI Ke-77, Pemdes Bobolio Gencarkan Gotong Royong Massal

Batuan hasil pelarutan berjuta tahun ini bahkan berongga dibagian belakngnya sehingga tampak seperti gua menggantung. Guyuran airnya bahkan bisa membuat kolam besar dibawahnya dan juga menciptakan kabut.

Namun, di balik keindahan air terjun Tumburano di Kecamatan Wawonii Utara, Kabupaten Konawe Kepulauan, menyimpan kisah asmara yang diceritakan sejak zaman kuno.

Konon, air terjun yang memiliki dua tingkatan itu, pernah jadi saksi cinta sepasang pemuda bernama Duru Balewula dan kekasihnya bernama WulangKinokooti yang tidak direstui hubungannya.

Dilansir dari LIiputa6.com, Seorang warga yang ditugasi menjaga lokasi air terjun Tumburano, bernama Rustam menceritakan, air terjun itu memiliki ketinggian sekitar 80 meter.

Zaman dahulu, di puncak gunung di atas air terjun, merupakan tempat leluhur masyarakat Wawonii bermukim.

“Disana, pernah sepasang kekasih mengakhiri hidupnya karena cinta mereka tak direstui,” kisah Rustam.

Diceritakan, Duru Balewula merupakan seorang laki-laki, sedangkan Wulangkinokooti merupakan kekasihnya. Konon, Wulangkinokooti memiliki kecantikan yang tak tertandingi hingga akhirnya Duru Balewula langsung jatuh cinta saat pertama bertemu.

“Menurut cerita, Wulangkinokooti ini kulitnya putih sekali. Bila ia makan sirih, bisa kelihatan di lehernya ketika ia menelan sirih itu,” ujar Rustam.

BACA JUGA :  Peringati HAN 2023, PT GKP Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Hari berganti, cinta sepasang kekasih itu ternyata tak direstui orang tua perempuan. Maka, kedua orang tua perempuan mulai mencari cara memisahkan keduanya.

“Saat itu, si perempuan disuruh menjaga kapas yang sementara dijemur, sedangkan kedua orang tuanya berangkat ke kebun,” lanjut Rustam.

Ternyata Wulangkinokooti lupa mengangkat kapas saat hujan turun karena asyik bercerita dengan Duru Balewula. Kedua orangtua Wulangkinokooti murka dan bersumpah tidak akan merestui hubungan keduanya.

“Ada sumpah yang diucapkan kedua orang tuanya yang tak merestui hubungan mereka. Karena kecewa, sepasang kekasih ini kemudian nekat menjatuhkan diri mereka ke air terjun itu,” ujar Rustam.

Saat berkunjung di wisata air terjun tumburano, para pengunjung di harapkan tidak membawa perhiasan yang berupa Emas, konon katanya ketika para pengunjung membawa perhiasan emas akan hilang dengan sendirinya.

Cerita yang melegendaris ini masi di percaya oleh masyarakat wawonii hingga saat ini. (Arya)

Sultra Light