SultraLight.Net – Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara atau Bank Sultra resmi memasuki era baru transformasi besar yang menandai perubahan fundamental dalam arah bisnis dan identitas kelembagaan.
Tidak lagi sekadar dikenal sebagai bank penyalur gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), Bank Sultra kini menegaskan diri sebagai bank umum modern yang kompetitif, inovatif, dan terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat serta pelaku usaha.
Komitmen transformasi tersebut disampaikan Direktur Utama Bank Sultra, Andri Permana Diputra Abubakar, dalam kegiatan Media Gathering 2025 pada Jumat 21 November 2025 di Tower Bank Sultra, Kendari.
Andri menyampaikan bahwa percepatan transformasi digital, ekspansi kredit produktif, serta penguatan fundamental keuangan menjadi kekuatan utama yang membawa Bank Sultra naik kelas dan bersaing di level nasional.
Transformasi digital menjadi pilar utama. Setiap pembukaan rekening baru kini terintegrasi dengan aktivasi mobile banking dan layanan transaksi digital.
Hingga September 2025, tercatat 115.513 pengguna Mobile Banking, 57.151 pengguna kartu debit aktif, 37.165 pengguna QRIS, serta 1.111 merchant yang telah menggunakan BeST-Q sebagai ekosistem pembayaran digital.
Pencapaian tersebut ditargetkan meningkat signifikan pada Desember 2025 seiring perluasan akses dan edukasi digital kepada masyarakat.
Selain digitalisasi, Bank Sultra memperkuat komitmen mendukung sektor riil melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp300 miliar pada tahun 2025. Fokus pembiayaan diarahkan pada pertanian, perikanan, kehutanan, serta perdagangan besar dan eceran.
Langkah strategis juga diwujudkan melalui penyaluran KUR Alsintan senilai Rp15 miliar, bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk mendukung modernisasi pertanian di Sulawesi Tenggara.
“Kami hadir bukan hanya sebagai bank penyedia layanan transaksi, tetapi sebagai motor penggerak sektor riil daerah,” ujar Andri.
Transformasi tersebut diikuti dengan kinerja keuangan yang gemilang. Hingga September 2025, Bank Sultra mencatat aset Rp13,5 triliun, DPK Rp10,7 triliun, dan penyaluran kredit sebesar Rp9,4 triliun. Rasio kesehatan finansial bank juga berada di atas rata-rata nasional, dengan CAR 34,88 persen, NPL 1,12 persen, dan BOPO 65,10 persen.
Tren laba terus meningkat dari Rp266,4 miliar pada 2021 menjadi Rp418,4 miliar pada 2024, dan ditargetkan kembali naik pada penutupan 2025.
Untuk memperkuat permodalan sekaligus memenuhi ketentuan OJK, Bank Sultra membangun Kelompok Usaha Bank (KUB) bersama Bank Jatim.
Skema penyertaan modal Rp100 miliar (3,26 persen saham) ditegaskan bukan merupakan akuisisi, melainkan sinergi strategis yang membuka peluang peningkatan daya saing dan percepatan transformasi digital.
Mengakhiri sambutannya, Andri menegaskan bahwa perjalanan baru Bank Sultra menjadi momentum penting untuk mematahkan stigma lama.
“Persepsi bahwa Bank Sultra adalah bank ASN harus kita tinggalkan. Kini Bank Sultra telah berevolusi menjadi bank umum modern yang siap bersaing, melayani seluruh segmen masyarakat, dan hadir sebagai penggerak ekonomi Sulawesi Tenggara,” jelasnya.
Dengan pondasi kuat, strategi agresif, dan komitmen pelayanan unggul, Bank Sultra siap berdiri sebagai bank masa depan yang inovatif, inklusif, dan kompetitif.
“Mari kita maju bersama membangun Sulawesi Tenggara untuk Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya.







