Warga Pesisir Morowali Serukan Keadilan di Tengah Gemerlap Industri Nikel PT IGIP

Saat Koordinator aksi, Irfan Mualim, menegaskan bahwa masyarakat tidak menolak pembangunan, namun menuntut keadilan yang seimbang antara kepentingan industri dan kesejahteraan warga lokal.

SultraLight.Net – Di balik kilau investasi dan gemerlap industri nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, tersimpan suara lirih masyarakat pesisir yang kian terpinggirkan.

Forum Komunikasi Keluarga Besar Pesisir Kepulauan Kabupaten Morowali menyatakan sikap tegas terhadap kehadiran PT International Green Industrial Park (IGIP), yang merupakan kolaborasi antara PT GEM, PT Vale Indonesia, dan Danantara Indonesia.

Koordinator aksi, Irfan Mualim, menegaskan bahwa masyarakat tidak menolak pembangunan, namun menuntut keadilan yang seimbang antara kepentingan industri dan kesejahteraan warga lokal.

“Kami merasa asing di tanah sendiri. Kami ingin menjadi bagian dari kemajuan, bukan sekadar penonton di kampung halaman,” ujarnya, Jumat (12/9/2025).

Dalam pernyataan sikapnya, warga menilai proses rekrutmen tenaga kerja tidak transparan dan cenderung hanya menempatkan warga lokal pada posisi pekerja lapangan.

BACA JUGA :  Anggota Reformasi Polri Jadi Pemegang Saham Terbesar di PT Almharig di Kabaena

Mereka mendesak agar minimal 50 persen tenaga kerja berasal dari masyarakat lokal serta adanya jalur pembinaan khusus untuk peningkatan kapasitas putra daerah.

Selain itu, banyak pengusaha kecil seperti penyedia transportasi dan jasa usaha merasa terpinggirkan karena perusahaan lebih banyak menggunakan jasa dari luar daerah. Warga menuntut agar pengusaha lokal dilibatkan secara nyata dalam rantai ekonomi perusahaan.

Dampak lingkungan juga menjadi sorotan serius. Polusi debu, limbah konstruksi, hingga pencemaran laut disebut mengancam kesehatan masyarakat dan mata pencaharian nelayan.

Warga meminta pertanggungjawaban perusahaan serta kompensasi atas dampak yang ditimbulkan.

Janji pembangunan pasar yang telah lama digaungkan juga belum terealisasi, sementara program Corporate Social Responsibility (CSR) dinilai hanya sebatas seremonial dan tidak menyentuh kebutuhan mendasar.

Masyarakat meminta adanya beasiswa khusus serta program berkelanjutan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi generasi muda di wilayah tersebut.

BACA JUGA :  PT KES SK 321 Jadi Inspirasi, Dukung Dunia Pendidikan Lewat Pembangunan Pagar Sekolah untuk SDN 06 Landawe

Masalah lain yang belum terselesaikan adalah hilangnya sumber air bersih tradisional dan meningkatnya volume sampah akibat aktivitas perusahaan. Kondisi ini membuat warga semakin terdesak dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Forum Keluarga Besar Pesisir menegaskan bahwa pernyataan sikap ini bukan sekadar keluhan, melainkan ultimatum damai. Mereka berharap PT IGIP segera mengambil langkah konkret dalam merespons tuntutan tersebut.

“Jika aspirasi ini terus diabaikan, maka kami siap melakukan gerakan yang lebih besar,” tegas Irfan.

Masyarakat berharap perusahaan tidak melihat warga lokal sebagai hambatan, melainkan sebagai mitra strategis dalam pembangunan industri nikel berkelanjutan di Morowali.

 

 

admlight