Bupati Yusran Blusukan di Tengah Expo: Dari Souvenir HKI hingga Reformasi BUMDes Dibedah Tanpa Kompromi

Blusukan yang dilakukan Bupati Konawe menjadi momen penting yang mengungkap arah baru pembangunan desa, tidak ada yang dilewati, tidak ada yang ditoleransi, dan tidak ada yang setengah-setengah.

SultraLight.Net – Malam di bekas lokasi STQ Unaaha berubah menjadi ruang percakapan besar tentang masa depan desa-desa di Konawe. Di tengah gemerlap lampu Expo Inovasi Desa 2025, Bupati Konawe Yusran Akbar hadir bukan sebagai tamu kehormatan yang sekadar menyapa dari panggung, melainkan sebagai pemimpin yang “turun tangan” langsung.

Blusukan yang ia lakukan malam itu menjadi momen penting yang mengungkap arah baru pembangunan desa, tidak ada yang dilewati, tidak ada yang ditoleransi, dan tidak ada yang setengah-setengah.

Sebelum memasuki deretan stan, Bupati Yusran menyempatkan diri menyaksikan dua tarian sakral, Tari Mombatani dari Abuki dan Tari Sumaku dari Meluhu. Bagi Yusran, seni bukan dekorasi acara, melainkan identitas yang hidup.

“Budaya bukan hanya dipamerkan. Ia harus dijaga, dihidupkan, dan menjadi fondasi pembangunan,” ucapnya singkat.

Dua tarian itu menjadi penanda bahwa Expo ini tidak hanya soal produk dan inovasi, tetapi juga tentang narasi kebudayaan yang sedang ditata ulang oleh 291 desa di Konawe.

Perjalanan dimulai di Stan Desa Puumbinisi. Di sinilah blusukan Yusran berubah menjadi forum audit spontan. Ia duduk, bukan berdiri. Mendengar, bukan hanya melihat. Lalu melempar pertanyaan yang membuat aparat desa tertegun.

“Saya tidak mau hanya melihat kemasan produk yang bagus,” tegasnya.

BACA JUGA :  Momen HUT ke-78 RI, Pemkab Konawe Serahkan 545 SK P3K Guru

“Saya ingin tahu sistemnya. Bagaimana BUMDes berjalan? Sehat atau tidak? Bagaimana akuntabilitasnya? Bagaimana koperasi di desa? Semua harus rapi dan transparan.”

Nada suaranya tegas, tapi tidak memojokkan. Justru membuka ruang dialog jujur antara pemerintah desa dan pimpinan daerahnya.

Bupati Yusran menegaskan bahwa era BUMDes hanya sekadar papan nama sudah berakhir.

“Kita tidak boleh menipu diri sendiri. Produk bagus tidak ada artinya jika BUMDes-nya mati suri. Saya ingin BUMDes menjadi mesin ekonomi, bukan formalitas,” katanya.

Beberapa kepala desa mengangguk, sebagian terlihat mencatat. Ini bukan teguran, tetapi arah baru: BUMDes harus menjadi institusi yang hidup dan berorientasi pada kesejahteraan warga.

Perhentian paling lama justru terjadi di Stan Desa Lalodangge. Bupati Yusran memegang langsung sebuah souvenir anyaman karya ibu-ibu perajin desa. Ia memerhatikan detailnya, mengajukan pertanyaan tentang bahan, pasar, hingga kualitas produksi.

Lalu datanglah pertanyaan yang jarang muncul di ruang pemerintahan tingkat kabupaten.

“Ini sudah punya sertifikat HKI? Kalau belum, segera kita urus. Produk ini bukan hanya cantik, tapi layak masuk pasar nasional dan bahkan ekspor,” lanjutnya.

Perajin yang hadir malam itu, termasuk seorang ibu bernama Ibu Santi, tampak terkejut sekaligus bangga.

BACA JUGA :  Pemkab Konawe Suport Pengembangan Semua Olahraga

“Selama ini kami hanya membuat. Hari ini Bupati membuka pikiran kami bahwa karya kami bisa punya nilai lebih dan bisa dikenal dunia,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Blusukan itu bukan sekadar inspeksi. Ini adalah pernyataan bahwa pembangunan desa tidak bisa dipisah-pisahkan: budaya, ekonomi, tata kelola, dan pemberdayaan harus berjalan dalam satu napas.

Seorang pengamat budaya lokal menilai langkah Yusran sebagai bentuk kepemimpinan yang memahami pembangunan Manusia Konawe.

Menutup blusukan panjangnya, Bupati Yusran menyampaikan pesan yang menjadi roh dari seluruh Expo Inovasi Desa Konawe.

“Malam ini kita membuktikan bahwa desa bukan masa lalu. Desa adalah masa depan. Dengan tata kelola yang baik, inovasi yang kuat, dan akar budaya yang dalam, tidak ada yang mustahil bagi desa-desa Konawe,” jelasnya.

Malam itu berakhir dengan lampu panggung yang perlahan meredup. Namun cahaya semangat dari para perajin, kepala desa, dan warga justru semakin menyala.

Expo Inovasi Desa telah menjadi ruang di mana Konawe melihat dirinya sendiri bukan sebagai kabupaten yang mengikuti arus, tetapi sebagai daerah yang sedang menulis masa depannya dengan penuh kesadaran dan keberanian.

admlight